Our social:

Sabtu, 02 September 2017

2 Hal yang Dilarang Keras dalam Qurban

Ketika seseorang sudah melaksanakan doa berqurban, maka dagingnya halal dikonsumsi untuk banyak orang. Namun ada saja pihak yang cari untung ketika kesempatan itu ada. Terutama untuk para penjagal hewan dan pihak-pihak yang berada di luar garis hewan qurban itu sendiri. Apabila kita tidak mengenal larangan dari Rasulullah SAW, mungkin akan mengira hal itu wajar. Padahal tidak begitu.
“Haram hukumnya apabila menghilangkan maupun menjual bagian dari hewan qurban sunah dan hadyu. Haram juga apabila mengupah tukang jagal dengan bagian dari hewan tersebut. Pihak yang menanggung beban biaya adalah pihak yang berqurban dan yang ber-hadyu sebagaimana pada biaya saat memanen.” (Kitab Bairut-Dar AL-Kutub Al-Ilmiyyah)
Apa itu hadyu? Secara bahasa hadyu memiliki makna binatang yang disembelih di Makkah dalam rangka ibadah haji maupun umrah. Siapa yang ber-hadyu? Tentu saja yang melaksanakan ibadah haji. Jadi, ketika seseorang berhaji, biasanya mengalami pula hari raya Idul Adha di Tanah Suci sana. Sebab, makna haji merujuk pada asal-muasal bulan Dzulhijjah.
Berdasarkan kitab di atas, kita bisa menyimpulan bahwa ada dua larangan keras dalam berqurban. Pertama, tidak boleh sedikitpun bagian dari daging qurban dijual. Haram hukumnya. Sesuatu kalau sudah pada derajat haram, tidak boleh diutak-utik lagi. Misal dengan menurunkan kadarnya jadi makruh. Tidak bisa. Ketentuan itu susah bersifat paten dan tidak bisa diganggu-gugat.
Kedua, tidak boleh mengupah tukang jagal hewan qurban dengan bagian dari tubuh hewan itu sendiri. Lebih afdal yang mengupah tentu saja yang berqurban. Seringkali kita temui kasus begini. Kulit sapi yang baru saja di-kelothok dari dagingnya, akan diangin-anginkan, kemudian dijadikan bedug, terbang, dan sebagainya. Selama tidak dikomersilkan tidak apa-apa. Untuk hal ini masih ada ikhtilaf.
Ada yang menyatakan boleh, ada juga yang menyatakan tidak boleh. Namun pendapat yang terkuat, apabila memang ada tukang jagal, lebih baik diniatkan untuk hal yang semestinya. Niat ini amat penting kedudukannya. Sedang yang memiliki kuasa niat, hanya pihak yang berqurban. Jadi, sebaiknya kulit, daging atau bagian lainnya, diniatkan bukan sebagai upah, tetapi lebih pada penyerahan bagian kurban itu sendiri.

Apakah kalau larangan itu tetap dilakukan akan berdosa? Tentu saja. Ini tidak ada kaitannya dengan adat dan kebudayaan setempat. Hukum dalam Islam sudah teramat jelas, soalnya berdasarkan kitab di atas tidak ada unsur filosofi sama sekali atau tidak berkias. Demikian adanya, sehingga doa berqurban amat baik jika diniatkan berdasarkan ketentuan Rasulullah. Melenceng sedikit saja, bisa jauh hasilnya.

0 komentar:

Posting Komentar